Minggu, 26 September 2010

Membangun Kesadaran Kritis - Transformatif

Freire, salah satu tokoh pendidikan humanis radikal menggolongkan tiga pembagian kesadaran. Pertama, kesadaran magis, yakni kesadaran yang melihat bahwa masyarakat tidak mempunyai kemampuan mengetahui kaitan antara satu faktor dengan faktor lainnya.
Kesadaran magis lebih melihat faktor di luar manusia (natural maupun supranatural) sebagai penyebab ketertindasan dan ketakberdayaan. Kesadaran yang demikian sepadan dengan pernyataan Giroux dan Arenowitz dalam pembagian paradigmatik yang digolongkan dalam paradigma konservatif, yakni paradigma yang berawal dari cara berpikir segala penyebab dari ragam masalah adalah takdir, dalam perkembangannya cara berpikir ini kemudian berubah menjadi watak manusia yang status quo, fatalis, fasis, superior, mandeg, given, natural, taken for granted, segala sesuatunya netral, tidak ada kepentingan dalam setiap realitas. Dalam konteks film, hasilnya dapat dilihat pada film-film hantu, drakula, dukun, takhayul, dan banyak film mistis lainnya, contoh terdekat adalah: jelangkung dan Kafir. Dalam konteks kontemporer film-film yang berorientasi pada status quo juga dapat digolongkan dalam kategori ini, misalnya: Rambo, film-film koboi, agen rahasia ala AS dan Inggris, di Indonesia kita mengenal film G30 SPKI yang diputar tiap malam tanggal 30 september.

Kedua, kesadaran naïf. Kesadaran yang secara siklistik sejalan dengan paradigma liberal yang memandang bahwa manusialah sumber dari berbagai persoalan sosial. Cara berpikir demikian nampak jelas pada manusia-manusia yang menganggap bahwa penyelesaian masalah (baca: akarnya) adalah motivasi atau need for achievement, “masalah etika”, kreatifitas, sumber daya manusia, kompetisi, transparansi dan tidak sekali-kali memandang bahwa ada faktor kekuasaan struktural seperti negara dan pemilik modal sehingga menghasilkan pula pemikiran yang berorientasi pada pasar dan bukan pada bagaimana memandang kemanusiaan manusia. Kenapa? Saat manusia berkejar-kejaran untuk meraih prestasi melalui kompetisi maka kehidupannya akan dipenuhi dengan “bagaimana menjadi yang terbaik” tanpa berpikir bahwa hasil terbaik yang diperolehnya berasal dari derita manusia lainnya. Film-film yang sekarang ini beredar kebanyakan menganut cara berpikir demikian, seperti kebanyakan film Holywood yang bermodal besar dan sekedar mengeruk keuntungan dari pasar, mereka tidak berpikir bahwa film-film yang dibuat telah merasuki kesadaran naïf manusia bahwa penguasaan dan kemampuan individu dalam membangun korporasi dan memainkan kebijakan negara adalah cara untuk menjadi seorang kompetitor tercanggih, terbaik dan yang paling berkuasa. Bentuk nyatanya adalah keberadaan korporasi film melalui monopoli jaringan 21.

Selain penguasan ekonomi, kesadaran manusianya juga disesuaikan dengan cara berpikir yang individualistik, berpihak pada modal, terbangun dari hukum-hukum yang linear, pasti. Misalnya film-film yang berhubungan dengan persaingan bisnis media, bisnis air, bias gender, betapa hebatnya kemampuan teknis orang barat, ajang kekuatan teknologi militer, film-film produksi kerjasama antara funding dan pekerja film Indonesia, beberapa diantaranya misal: Wasiat Slamet, Secarik Kertas di Persimpangan, Pahitnya Kopi Tanpa Gula –tentang resensi film ini bisa dilihat di Jurnal Wacana Edisi 14, tahun III 2002 yang ditulis oleh Eko Prasetyo.

Berikutnya adalah kesadaran kritis, sebuah kesadaran yang melihat adanya keterkaitan antara ideologi dan struktur sosial sebagai akar masalah. Pendekatan ini menghindari “blaming the Victims” dan lebih menganalis pada struktur dan sistem sosial, politik, ekonomi, gender, budaya serta akibatnya pada masyarakat (M. Fakih: 1997: xvii). Implikasi dari pemikiran kritis adalah adanya upaya “belajar bersama” untuk membangun dialog demi perubahan yang lebih baik dan bermakna, konsekuensinya kemudian pelaku atau organisasi yang menggunakan pendekatan demikian memandang bahwa manusia –dirinya dan manusia lain- adalah subyek dari perubahan yang berpihak pada pembelaan terhadap ketertindasan rakyat, baik secara sektoral, kelas, bahasa, gender, ilmu pengetahuan, aktivitas sosial. Metode yang digunakan berupa riset aksi-partisipatoris, rakyat tertindaslah yang berbicara dan sang kreator sekedar memfasilitasi dan “belajar bersama” untuk bersama-sama menyelesaikan masalah dengan melakukan praksis gerakan. Film-film yang anti kemapanan, berpihak pada korban yang tertindas, melawan struktur dominan di bidang ekonomi, sosial, politik, budaya masuk dalam kategori ini. Contohnya film-film yang dibintangi Robin Williams, film-film dokumentasi anti perang, anti kapitalis (karya John Pilger; The New Rulers of the World), anti rasis, anti diskriminasi gender, membangkitkan semangat perlawanan rakyat. Di Indonesia dapat dikenali pada mass grave, yang mendokumentasikan kekejaman rejim orba terhadap rakyat yang dituduh komunis, 2.5 Billion for The State yang bertutur tentang ketertindasan dan perjuangan buruh migran di Hongkong, Upeti untuk Punggawa dan Nasi Basi untuk Kawula, film ini mendokumentasikan praktik-praktik korupsi sehari-hari yang dilakukan oleh aparat kepolisian dan tentara sebagai penjaga dari struktur negara dan kapital yang tidak berpihak pada rakyat kecil.

Selasa, 22 Juni 2010

BERFIKIR UNTUK MASA DEPAN

Masa depan seseorang tergantung dari Cara Berpikir saat ini. Cara Berpikir yang buruk hari ini. Berakibat pada buruknya masa depan seseorang. Berpikir baik sesaat pada hari ini. Berubah kebagusan di masa-masa mendatang. Hati-hatilah dalam berpikir. Masa depan seseorang dapat dilihat Cara berpikir-nya saat ini (sekarang ini).

Berpikir tentang masa depan dapat menimbulkan kepuasan. Secara instingtif, manusia selalu membayangkan hal-hal yang menyenangkan daripada hal-hal yang menyusahkan atau mengalami kegagalan. Berpikir tentang masa depan bisa begitu menyenangkan sampai kadang-kadang kita lebih suka melamunkannya daripada berusaha mewujudkannya.

Tentu, fenomena di atas hanyalah satu kemungkinan dari sekian kemungkinan kegiatan nexting. Persoalan utamanya sebenarnya bukan terletak pada proses pembayangan itu kelak akan benar-benar terwujud atau kita sudah merasa cukup puas dengan hanya membayangkannya, tetapi yang pasti kegiatan tersebut dapat menimbulkan perasaan bahagia. Otak manusia akan bereaksi secara sama terhadap emosi-emosi positif yang terjadi, baik yang diberi stimuli oleh kejadian nyata maupun dari kegiatan pembayangan saja. Hal ini mengindikasikan bahwa secara evolutif manusia akan merasa lebih nyaman dalam menghadapi situasi ketidakpastian di masa depan dengan melakukan nexting.

Tapi kita hendaknya berhati-hati jika sesuatu yang kita bayangkan itu bersumber dari persoalan yang benar-benar kita kehendaki, dan kita yakini dapat mengubah kehidupan kita di masa mendatang. Kebanyakan di antara kita memiliki pengalaman jauh lebih banyak untuk membayangkan kejadian-kejadian yang menyenangkan ketimbang kejadian-kejadian menyedihkan. Kita pun cenderung memberi penilaian berlebihan terhadap kemungkinan bahwa peristiwa menyenangkan itu sungguh-sungguh terjadi.

Lantas sikap mental seperti apa yang mestinya kita tempuh agar kita tetap mampu merasakan kebahagiaan atas kegiatan nexting kita sekaligus mampu mengatasi rasa frustrasi ketika membayangkan apa yang kita kehendaki tidak terjadi, atau bahkan di masa depan ia memang benar-benar tidak terjadi?

Kita harus memiliki kendali yang sehat atas sesuatu yang kita bayangkan. Artinya, kita mencoba mengetahui sesuatu yang tidak mustahil akan terjadi dan kita dapat berbuat sesuatu untuk mengatasinya. Kita akan merasakan kepuasan ketika memegang kendali–tidak hanya kita menjadi lebih yakin bahwa kita berkuasa atas masa depan itu, tetapi juga karena kita telah melakukan sesuatu untuk memegang kendali itu. Membayangkan sesuatu, mempengaruhinya, membuat sesuatu terjadi, adalah salah satu kebutuhan mendasar kita yang hadir secara alami melalui otak yang kita miliki. Sejak bayi hingga dewasa, kita telah terbiasa berjuang mengatasi ketidakpastian di sekitar kita, dari menangis untuk mengikat perhatian orang-orang sekitar sampai membuat perencanaan dan prediksi yang matang.

Belajarlah dari masa lalu, hiduplah pada masa kini, dan rencanakanlah masa depan.

Masa lalu adalah mimpi, masa depan adalah proyeksi, hidupmu saat ini yang diwarnai cinta mendalam pada Allah membuat masa lalu menjadi mimpi yang indah dan masa depan yang penuh harapan. (DR. Ibrahim Elfiky).